Peer-reviewed article
Analysis of Child Nutritional Status and Recommendation of Katuk Leaves (Sauropus androgynus) Utilization for Stunting Prevention in Aikmel Utara Village
Audi Miftahul Aulia Audi ·
Summary
Written by AI, not yet AICS's view · claude-haiku-4-5-20251001This study examines stunting in children in Aikmel Utara Village, East Lombok, Indonesia, and identifies nutritional factors contributing to the problem. The research found that stunting is primarily driven by poor dietary diversity, low protein and micronutrient intake, and parents' limited knowledge of balanced nutrition, despite some families having adequate income. The researchers recommend using katuk leaves (Sauropus androgynus), a local food source rich in protein and micronutrients, as a sustainable prevention strategy for stunting.
Key points
- Stunting in the village is influenced by long-term malnutrition affecting physical growth and child development
- Poor dietary diversity and low consumption of protein and micronutrients are primary drivers of stunting
- Limited parental understanding of balanced nutrition contributes to the problem despite some families having adequate economic resources
- Katuk leaves are recommended as a local, nutrient-rich food source to increase protein and micronutrient intake
- A local food-based approach is proposed as a practical and sustainable prevention strategy
Limitations
This is a descriptive qualitative study without an experimental design, so it cannot demonstrate whether katuk leaves utilization actually prevents or reduces stunting. The document does not report quantitative stunting prevalence data or the results of any intervention trial.
Abstract
Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan yang serius di Desa Aikmel Utara, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur. Kondisi ini dipengaruhi oleh kekurangan gizi dalam jangka panjang yang berdampak pada gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi status gizi anak serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya stunting sebagai dasar perumusan inovasi berbasis pangan lokal. Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan pendekatan observasional melalui kegiatan posyandu, wawancara kepada orang tua, serta pengukuran antropometri balita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stunting di Desa Aikmel Utara lebih dipengaruhi oleh pola makan yang kurang beragam, rendahnya konsumsi protein dan mikronutrien, serta terbatasnya pemahaman orang tua mengenai gizi seimbang, meskipun kondisi ekonomi sebagian keluarga tergolong cukup. Berdasarkan temuan tersebut, direkomendasikan inovasi pemanfaatan daun katuk (Sauropus androgynus) sebagai sumber pangan lokal bergizi untuk mendukung peningkatan asupan protein dan mikronutrien anak. Pendekatan berbasis potensi lokal ini diharapkan dapat menjadi strategi preventif yang aplikatif dan berkelanjutan dalam upaya pencegahan stunting.